Di dalam Al Quran tidak kurang dari 431 kali kata Rasul baik dalam
bentuk tunggal maupun jamak disebutkan.[1]
Telah dinyatakan dalam hadits bahwa jumlah rasul ada 124.000 orang. Karena
itulah kita harus beriman kepada semua rasul yang dibangkitkan di India, Cina,
Iran, Mesir, Afrika, Eropa dan di Negeri-negeri lainnya di dunia.
Allah telah mengutus mereka kepada setiap kaum dan bahwa semuanya
telah membawa agama yang sama seperti Islam.[2]
Mereka itu adalah manusia-manusia luar biasa yang karena kepekaan dan
ketabahannya, serta karena wahyu dari Allah yang mereka terima dan kemudian
menyampaikannya kepada manusia dengan ulet tanpa mengenal takut, dapat
mengalihkan hati nurani umatmanusia dari ketenangan tradisional dan tensi hipo
moral kedalam suatu kawasan sehingga mereka dapat menyaksikan Tuhan sebagai
Tuhan dan Syaithan sebagai syaithan.
A.
LAFAL SURAT AN NISA AYAT 115 DAN ALI IMRAN AYAT 106-108
وَمَن
يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ الهُدَى وَيَتَّبِع غَيرَ
سَبِيلِ المُؤمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصلِهِ جَهَنَّمَ وَ سَاءَت
مَصِيرًا.
“Dan barang siapa yang
menentang rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan
jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang
telah dikuasainya itu dan kami masukkan ke dalam Neraka Jahannam, dan Neraka
Jahannnam itu seburuk-buruk tempat kembali”.
(QS. An Nisa : 115).
Penjelasan tentang turunnya ayat ini dijumpai pada keterangan yang
diberikan oleh Sayyid Quthub.menurutnya bahwa ayat ini diturunkan berkenaan
dengan Basyir bin Ubairiq yang telah murtad dan
menyatakan kemusyrikannya, setelah sebelumnya mereka mendapatkan
keterangan dari Rasululah SAW.[3] Dari kandungan ayat
115-117 yang antara lain berisi kecaman terhadap orang yang menentang
Rasulullah SAW dengan akan dimasukkan kedalam neraka jahannam, dapat diketahui
bahwa ayat ini turun dalam situasi dimana masyarakat Arab Jahiliyyah pada saat
itu banyak yang menentang Rasul. Bahwa secara umum keadaan masyarakat pada saat
datangnya para Rasul berada dalam keadaan chaos, jauh dari kebenaran dan
cenderung menentang kepada siapa saja yang mengingatka dan meluruskan mereka.
Maka wajar jika masih banyak yang belum mau mengikuti Rasulullah SAW. Keadaan
ini pernah diramalkan oleh Waraqah bin Naufal, pada saat ia dijumpai oleh
Rasulullah saw bersama istrinya, Khadijah. Saat itu Waraqah sudah memperkirakan
bahwa masyarakat akan menentang, mengusir, dan menyakitinya. Dan hal itu
menjadi kenyataan. Namun karena Rasulullah membawa agama yang diturunkan Allah
SWT, mka dengan sendirinya Allah melindunginya, dan sekaligus mengecam
orang-orang yang menentangnya.
Dalam surat An-Nisa ayat 59, yaitu perintah agar menaati Allah dan
menaati Rasulullah saw.
يَأَيُّهَا الَّذِينَ امَنُوا
أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولُ وَ أُولِى الأَمرِ مِنكُم.....
“Hai orang-orang yang
beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasulullah (Nya), dan ulil amri di antara
kamu”
Karena orang-orang tersebut jelas
mengabaikan perintah Allah SWT tersebut maka wajar jika Allah mengecam mereka
dengan neraka Jahanam. Mereka memiliki ciri-ciri khusus di Hari Kiamat,
sebagaimana dijelaskan surat Ali Imran ayat 106-108 sebagai berikut:
يَومَ
تَبيَضُّ وُجُوهُ وَتَسوَدُّ وُجُوهُ فَأَمَّا الَّذِينَ اسوَدَّت وُجُوهُهُم
أَكَفَرتُم بَعدَ إِيمنَكُم فَذُوقُوا العَذَابَ بِمَا كُنتُم تَكفُرُونَ.
وَأَمَّا الَّذِينَ ابيَضَّت وُجُوهُهُم فَفِى رَحمَةِ اللَّهِ هُم فِيهَا
خلِدُونَ. تِلكَ ايتُ اللَّهِ نَتلُوهَا
عَلَيكَ بِالحَقِّ وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلُمًا لِّلعلَمِينَ.
“Pada hari yang di waktu
itu ada muka yang menjadi putih berseri, dan ada pula muka yang menjadi hitam
muram. Adapun orang-orang yang menjadi hitam muram mukanya (kepada mereka
dikatakan) “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab
disebabkan kekafiranmu.”
Adapun
orang-orang yang menjadi putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat
Allah SWT (syurga), mereka kekal di dalamnya.
Itulah
ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar, dan tiadalah
Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hambanya. (QS.Ali Imran : 106-108)
Ayat 115-117 surat An Nisa yang
menjelaskan kecaman Allah terhadap orang-orang yang mengingkari Rasulullah SAW
berupa siksaan api neraka Jahanam, sedangkan ayat 106-108 surat Ali Imran
menjelaskan ayat-ayt tersebut. Dalam kaitan ini tepat sekali ungkapan Mahmud
Syaltut yang mengatakan bahwa al-Quran yufassiru ba’dluhu ba’dla (Al-Quran itu
saling menafsirkan antara bagian yang satu dengan bagian yang lain).[4]
B.
KANDUNGAN SURAT AN NISA AYAT 115-118
Maksud dari ayat 115 sebagaimana
dijelaskan oleh al-Maraghi adalah: Barang siapa yang menentang Rasul dengan
cara murtad (keluar) dari Islam dan menunjukkan dengan jelas permusuhan
kepadanya, dan ditegakkannya argumentasi yang kuat, serta mereka mengikuti
jalan yang tidak sesuai petunjuk, maka kami (Rasul) akan membiarkan mereka itu
berada dalam kesesatan.[5]
Lebih lanjut al-Maraghi menjelaskan
bahwa ayat tersebut menjelaskan sunnatullah yang berlaku dalam amal perbuatan
manusia, serta penjelasan terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya, berupa
kehendak, kebebasan dan berbuat berdasarkan plihannya sendiri.sesuatu dari
aspek perbuatan yang dipilihnya untuk dilakukan, itulah pula balasan yang akan
diberikan Allah kepadanya. Amal perbuatannya itulah yang akan menjadi pemandu
dan petunjuk trhadap jalan yang ditempuhnya. Dalam kaitan ini tiddak akan
dijumpai kekuasaan Allah yang dipaksakan kepada manusia agar ia mengerjakan
atau meninggalkan perintah-Nya, hingga ia dimasukkan ke dalam neraka jahannam.
Mereka masuk kedalam neraka Jahannam karena perbuatan mereka sendiri.
Ibnu Katsir mengatakan bahwa maksud
ayat terebut adalah: Barang siapa yang menempuh jalan yang tidak sesuai
dengan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah saw maka orang itu termasuk dalam
keadaan menentang dan berada pada jalur penentang, yang dilakukan dengan sengaja
setelah tampak kepada mereka kebenaran, serta menmpuh jalan yang berbeda dengan
jalan yang ditempuhorang-orang yang beriman, maka ia akan dijerumuskan ke dalam
Neraka Jahannam.[6]
C.
HUBUNGAN MAKNA KERASULAN DENGAN PENDIDIKAN
1.
Makna
kerasulan tersebut mengingatkan tentang pentingnya pendidikan akhlak. Misal,
dalam bidang konomi: ditegakkan akhlak berupa pemerataan, anti monopoli,
menggunakan harta tidak terlalu berlebihan atau untuk tujuan keburukan,
diperoleh dengan cara yang halal dan baik, dan digunakan dengan cara yang baik.
Dalam bidang sosial: ditegakkan akhlak kesederajatan (egaliter), saling
menolong, atas dasar keimanan dan ketakwaan, anti rasial, anti kasta, dan
sebagainya. Dalam bidang politik: ditegakkan akhlak kejujuran, amanah,
keadilan, musyawarah, melindungi kaum yang lemah, tanggung jawab dan demokratis.
Dalam bidang hukum: ditegakkan akhlak keadilan, kesamaan, tanpa pilih kasih,
manusiawi, tanggung jawab, dan amanah. Dalam bidang kebudayaan: ditegakkan
akhlak kesucian jiwa, cenderung kepada kebenaran, jauh dari memperturutkan hawa
nafsu dan sebagainya.
2.
Mengingatkan
tentang pentingnya mentaati guru. Para Rasul yang diutus oleh Allah adalah guru
bagi kaumnya. Allah menyuruh umat manusia mentaati Rasul, ini berarti Allah
menyuruh umat manusia mentaati guru, dan jangan sekali-kali menentangnya.
3.
Mengingatkan
tentang pentingnyaprofesionalisme seorang guru. Guru yang profesisonalisme adalah guru yang selain menguasai materi
pelajaaran dengan sebaik-baiknya dan mampu menyampaikan materi pelajaran
tersebut secara efektif dan efisien, juga harus memiliki akhlak yang mulia dan
berkepribadian yang mulia. Seorang guru harus mengamalkan nilai-nilai luhur
yang diajarkan kepada siswanya.[7]
D.
PERAN-PERAN POSITIF YANG HARUS DILAKUKAN OLEH GURU INI DAPAT DIANALISIS MELALUI
PERAN KERASULAN SEBAGAI BERIKUT:
1.
Tugas
Rasulullah sebagai pengajar dan pendidik, dapat dipahami dari ayat yang
artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di
antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka
dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka
sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Al Jumu’ah, 62:2).
2.
Tugas
dan fungsi Raul sebagai saksi atau penilai terhadap perbuatan manusia. Di dalam
Al-Quran Allah SWT menyatakan Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu
(umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas
(perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan)
kamu. (QS.Al-Baqarah, 2: 143)
3.
Tugas
dan fungs Rasul sebagai mubaligh yaitu menyampaikan ajaran yang diwahyukan
Tuhan kepada umat manusia. Di dalam Al-Quran: dan kewajiban Rasul itu, tidak
lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya. (QS.
Al-Ankabut, 29:18).
4.
Tugas
dan fungsi Rasul sebagai mubayyin atau orang yang diberi mandate untuk
menjelaskan wahyu dari Allah SWT kepada umat manusia. Di dalam Al-Quran: Dan
KAmi turunkan kepadamu (Muhammad) al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat
manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkan.
(QS. An-Nahl, 16:44).
5.
Tugas
dan fungsi Rasul sebagai reformer (pembaharu) terhadap ajaran-ajaran agama yang
datang sebelumnya. Dalam al-Quran: Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan
membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas
segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS.At-Taubah, 9:
33).
6.
Tugas
dan fungsi Rasul sebagai uswah hasanah sebagai contoh dan panutan yang baik,
atau sebagai model ideal bagi kehidupan dalam segala bidang, terutama dari segi
akhlak yang mulia, harus memberikan contoh yang baik dalam bertutur kata,
berjalan, makan, minum, berpakaian, tidur, berumah tangga, bergaul, berjualan,
berperang, memimpin, berdiplomasi dan lain sebagainya.
7.
Tugas
dan fungsi Rasul sebagai hakim yang mengadili perkara yang terjadi di antara
pengikutnya, dengan berpedoman kepada al-Quran. Allah SWT berfirman:
Sesunguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu (Muhammad) dengan membawa
kebenaran, supaaya kamu mengadili antara manusia dengan apa-apa yang telah
Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak
bersalah), karena (membela) orang yang khianat. (QS. An Nisa, 4:105).
Tugas dan fungsi Rasul tersebut
selanjutnya harus pula diambil alih oleh para guru, terutama dalam
memperlakukan para muridnya yang melakukan penyimpangan.
PENUTUP
Berdasarkan uraian tersebut, terklihat dengan jelas bahwa uraian
tentang makna kerasulan banyak terkait dengan kualitas, peran, fungsi dan
hak-hak yang harus dimiliki oleh guru. Dengan demikian, jika dalam surat An
Nisa ayat 115 di atas dijumpai kecaman Allah tehadap orang-orang yang menentang
Rasul, maka ini dapat pula dipahami sebagai kecaman tehadap orang-orang yang
menantang para ulama, termasuk menentang para guru. Halyang demikian tujuannya
bukan untuk Rasul, ulama, atau guru, tetapi untuk umat itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad
Fu’ad Abd Al Baqy, Mu’jam al-Mufabrats li Alfadz Al Quran Al Karim,
Beirut: Dar Al Fikr, 1407 H/1987 M), hal.314-319.
Syed
Mahmudunnasir, Islam konsepsinya dan Sejarahnya, (terj). Adang Affandi,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), cet. II, hal.30.
Sayyid
Quthub, Fi Dzilah al-Quran jilid II, (Makkah al-Mukarramah: Dar
al-Syuruq, 1412 H/1992,hal.759.
Mahmud
Syaltut, AL Fatawa, (Mesir: Dar al-Ma’arif, 1978), hal.145.
Ahmad
Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Jilid II, (Beirut:Darul
Fiqr.tp.th.) hal.155.
Imam
Abi al-Fida’ Isma’il Ibn Katsir al-Qurasyi al-Dimasyqi, Tafsir Ibn Katsir,
Jilid I, (Makkah al-Mukarramah: Al-Maktabah Al-Tijariyah, 1407 H/1986 Hal.
555-556.
[1]
Lihat Muhammad Fu’ad Abd Al Baqy, Mu’jam al-Mufabrats li Alfadz Al Quran Al
Karim, Beirut: Dar Al Fikr, 1407 H/1987 M), hal.314-319.
[2]
Syed Mahmudunnasir, Islam konsepsinya dan Sejarahnya, (terj). Adang
Affandi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), cet. II, hal.30.
[3]
Sayyid Quthub, Fi Dzilah al-Quran jilid II, (Makkah al-Mukarramah: Dar
al-Syuruq, 1412 H/1992,hal.759.
[4]
Mahmud Syaltut, AL Fatawa, (Mesir: Dar al-Ma’arif, 1978), hal.145.
[5]
Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Jilid II, (Beirut:Darul
Fiqr.tp.th.) hal.155.
[6]
Imam Abi al-Fida’ Isma’il Ibn Katsir al-Qurasyi al-Dimasyqi, Tafsir Ibn
Katsir, Jilid I, (Makkah al-Mukarramah: Al-Maktabah Al-Tijariyah, 1407
H/1986 Hal. 555-556.
[7]
Abuddin Nata, Paradigma Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2001), hal. 67.