Selasa, 10 Februari 2015

Misi Kerasulan (Tafsir Surat An Nisa Ayat 115 dan 117 Serta surat Ali Imran Ayat 106 – 108)



Di dalam Al Quran tidak kurang dari 431 kali kata Rasul baik dalam bentuk tunggal maupun jamak disebutkan.[1] Telah dinyatakan dalam hadits bahwa jumlah rasul ada 124.000 orang. Karena itulah kita harus beriman kepada semua rasul yang dibangkitkan di India, Cina, Iran, Mesir, Afrika, Eropa dan di Negeri-negeri lainnya di dunia.
Allah telah mengutus mereka kepada setiap kaum dan bahwa semuanya telah membawa agama yang sama seperti Islam.[2] Mereka itu adalah manusia-manusia luar biasa yang karena kepekaan dan ketabahannya, serta karena wahyu dari Allah yang mereka terima dan kemudian menyampaikannya kepada manusia dengan ulet tanpa mengenal takut, dapat mengalihkan hati nurani umatmanusia dari ketenangan tradisional dan tensi hipo moral kedalam suatu kawasan sehingga mereka dapat menyaksikan Tuhan sebagai Tuhan dan Syaithan sebagai  syaithan.
A. LAFAL SURAT AN NISA AYAT 115 DAN ALI IMRAN AYAT 106-108
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ الهُدَى وَيَتَّبِع غَيرَ سَبِيلِ المُؤمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصلِهِ جَهَنَّمَ وَ سَاءَت مَصِيرًا.

“Dan barang siapa yang menentang rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ke dalam Neraka Jahannam, dan Neraka Jahannnam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. An Nisa : 115).
Penjelasan tentang turunnya ayat ini dijumpai pada keterangan yang diberikan oleh Sayyid Quthub.menurutnya bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Basyir bin Ubairiq yang telah murtad dan  menyatakan kemusyrikannya, setelah sebelumnya mereka mendapatkan keterangan dari Rasululah SAW.[3]  Dari kandungan ayat 115-117 yang antara lain berisi kecaman terhadap orang yang menentang Rasulullah SAW dengan akan dimasukkan kedalam neraka jahannam, dapat diketahui bahwa ayat ini turun dalam situasi dimana masyarakat Arab Jahiliyyah pada saat itu banyak yang menentang Rasul. Bahwa secara umum keadaan masyarakat pada saat datangnya para Rasul berada dalam keadaan chaos, jauh dari kebenaran dan cenderung menentang kepada siapa saja yang mengingatka dan meluruskan mereka. Maka wajar jika masih banyak yang belum mau mengikuti Rasulullah SAW. Keadaan ini pernah diramalkan oleh Waraqah bin Naufal, pada saat ia dijumpai oleh Rasulullah saw bersama istrinya, Khadijah. Saat itu Waraqah sudah memperkirakan bahwa masyarakat akan menentang, mengusir, dan menyakitinya. Dan hal itu menjadi kenyataan. Namun karena Rasulullah membawa agama yang diturunkan Allah SWT, mka dengan sendirinya Allah melindunginya, dan sekaligus mengecam orang-orang yang menentangnya.
Dalam surat An-Nisa ayat 59, yaitu perintah agar menaati Allah dan menaati Rasulullah saw.
يَأَيُّهَا الَّذِينَ امَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولُ وَ أُولِى الأَمرِ مِنكُم.....
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasulullah (Nya), dan ulil amri di antara kamu”
            Karena orang-orang tersebut jelas mengabaikan perintah Allah SWT tersebut maka wajar jika Allah mengecam mereka dengan neraka Jahanam. Mereka memiliki ciri-ciri khusus di Hari Kiamat, sebagaimana dijelaskan surat Ali Imran ayat 106-108 sebagai berikut:
يَومَ تَبيَضُّ وُجُوهُ وَتَسوَدُّ وُجُوهُ فَأَمَّا الَّذِينَ اسوَدَّت وُجُوهُهُم أَكَفَرتُم بَعدَ إِيمنَكُم فَذُوقُوا العَذَابَ بِمَا كُنتُم تَكفُرُونَ. وَأَمَّا الَّذِينَ ابيَضَّت وُجُوهُهُم فَفِى رَحمَةِ اللَّهِ هُم فِيهَا خلِدُونَ. تِلكَ  ايتُ اللَّهِ نَتلُوهَا عَلَيكَ بِالحَقِّ وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلُمًا لِّلعلَمِينَ.
“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri, dan ada pula muka yang menjadi hitam muram. Adapun orang-orang yang menjadi hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan) “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu.”
Adapun orang-orang yang menjadi putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah SWT (syurga), mereka kekal di dalamnya.
Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar, dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hambanya. (QS.Ali Imran : 106-108)
            Ayat 115-117 surat An Nisa yang menjelaskan kecaman Allah terhadap orang-orang yang mengingkari Rasulullah SAW berupa siksaan api neraka Jahanam, sedangkan ayat 106-108 surat Ali Imran menjelaskan ayat-ayt tersebut. Dalam kaitan ini tepat sekali ungkapan Mahmud Syaltut yang mengatakan bahwa al-Quran yufassiru ba’dluhu ba’dla (Al-Quran itu saling menafsirkan antara bagian yang satu dengan bagian yang lain).[4]
B. KANDUNGAN SURAT AN NISA AYAT 115-118
            Maksud dari ayat 115 sebagaimana dijelaskan oleh al-Maraghi adalah: Barang siapa yang menentang Rasul dengan cara murtad (keluar) dari Islam dan menunjukkan dengan jelas permusuhan kepadanya, dan ditegakkannya argumentasi yang kuat, serta mereka mengikuti jalan yang tidak sesuai petunjuk, maka kami (Rasul) akan membiarkan mereka itu berada dalam kesesatan.[5]
            Lebih lanjut al-Maraghi menjelaskan bahwa ayat tersebut menjelaskan sunnatullah yang berlaku dalam amal perbuatan manusia, serta penjelasan terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya, berupa kehendak, kebebasan dan berbuat berdasarkan plihannya sendiri.sesuatu dari aspek perbuatan yang dipilihnya untuk dilakukan, itulah pula balasan yang akan diberikan Allah kepadanya. Amal perbuatannya itulah yang akan menjadi pemandu dan petunjuk trhadap jalan yang ditempuhnya. Dalam kaitan ini tiddak akan dijumpai kekuasaan Allah yang dipaksakan kepada manusia agar ia mengerjakan atau meninggalkan perintah-Nya, hingga ia dimasukkan ke dalam neraka jahannam. Mereka masuk kedalam neraka Jahannam karena perbuatan mereka sendiri.
            Ibnu Katsir mengatakan bahwa maksud ayat terebut adalah: Barang siapa yang menempuh jalan yang tidak sesuai dengan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah saw maka orang itu termasuk dalam keadaan menentang dan berada pada jalur penentang, yang dilakukan dengan sengaja setelah tampak kepada mereka kebenaran, serta menmpuh jalan yang berbeda dengan jalan yang ditempuhorang-orang yang beriman, maka ia akan dijerumuskan ke dalam Neraka Jahannam.[6]
C. HUBUNGAN MAKNA KERASULAN DENGAN PENDIDIKAN
1.      Makna kerasulan tersebut mengingatkan tentang pentingnya pendidikan akhlak. Misal, dalam bidang konomi: ditegakkan akhlak berupa pemerataan, anti monopoli, menggunakan harta tidak terlalu berlebihan atau untuk tujuan keburukan, diperoleh dengan cara yang halal dan baik, dan digunakan dengan cara yang baik. Dalam bidang sosial: ditegakkan akhlak kesederajatan (egaliter), saling menolong, atas dasar keimanan dan ketakwaan, anti rasial, anti kasta, dan sebagainya. Dalam bidang politik: ditegakkan akhlak kejujuran, amanah, keadilan, musyawarah, melindungi kaum yang lemah, tanggung jawab dan demokratis. Dalam bidang hukum: ditegakkan akhlak keadilan, kesamaan, tanpa pilih kasih, manusiawi, tanggung jawab, dan amanah. Dalam bidang kebudayaan: ditegakkan akhlak kesucian jiwa, cenderung kepada kebenaran, jauh dari memperturutkan hawa nafsu dan sebagainya.
2.      Mengingatkan tentang pentingnya mentaati guru. Para Rasul yang diutus oleh Allah adalah guru bagi kaumnya. Allah menyuruh umat manusia mentaati Rasul, ini berarti Allah menyuruh umat manusia mentaati guru, dan jangan sekali-kali menentangnya.
3.      Mengingatkan tentang pentingnyaprofesionalisme seorang guru. Guru yang profesisonalisme  adalah guru yang selain menguasai materi pelajaaran dengan sebaik-baiknya dan mampu menyampaikan materi pelajaran tersebut secara efektif dan efisien, juga harus memiliki akhlak yang mulia dan berkepribadian yang mulia. Seorang guru harus mengamalkan nilai-nilai luhur yang diajarkan kepada siswanya.[7]
D. PERAN-PERAN POSITIF YANG HARUS DILAKUKAN OLEH GURU INI DAPAT DIANALISIS MELALUI PERAN KERASULAN SEBAGAI BERIKUT:
1.      Tugas Rasulullah sebagai pengajar dan pendidik, dapat dipahami dari ayat yang artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Al Jumu’ah, 62:2).
2.      Tugas dan fungsi Raul sebagai saksi atau penilai terhadap perbuatan manusia. Di dalam Al-Quran Allah SWT menyatakan Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (QS.Al-Baqarah, 2: 143)
3.      Tugas dan fungs Rasul sebagai mubaligh yaitu menyampaikan ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada umat manusia. Di dalam Al-Quran: dan kewajiban Rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya. (QS. Al-Ankabut, 29:18).
4.      Tugas dan fungsi Rasul sebagai mubayyin atau orang yang diberi mandate untuk menjelaskan wahyu dari Allah SWT kepada umat manusia. Di dalam Al-Quran: Dan KAmi turunkan kepadamu (Muhammad) al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkan. (QS. An-Nahl, 16:44).
5.      Tugas dan fungsi Rasul sebagai reformer (pembaharu) terhadap ajaran-ajaran agama yang datang sebelumnya. Dalam al-Quran: Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS.At-Taubah, 9: 33).
6.      Tugas dan fungsi Rasul sebagai uswah hasanah sebagai contoh dan panutan yang baik, atau sebagai model ideal bagi kehidupan dalam segala bidang, terutama dari segi akhlak yang mulia, harus memberikan contoh yang baik dalam bertutur kata, berjalan, makan, minum, berpakaian, tidur, berumah tangga, bergaul, berjualan, berperang, memimpin, berdiplomasi dan lain sebagainya.
7.      Tugas dan fungsi Rasul sebagai hakim yang mengadili perkara yang terjadi di antara pengikutnya, dengan berpedoman kepada al-Quran. Allah SWT berfirman: Sesunguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, supaaya kamu mengadili antara manusia dengan apa-apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang yang khianat. (QS. An Nisa, 4:105).
            Tugas dan fungsi Rasul tersebut selanjutnya harus pula diambil alih oleh para guru, terutama dalam memperlakukan para muridnya yang melakukan penyimpangan.








PENUTUP
Berdasarkan uraian tersebut, terklihat dengan jelas bahwa uraian tentang makna kerasulan banyak terkait dengan kualitas, peran, fungsi dan hak-hak yang harus dimiliki oleh guru. Dengan demikian, jika dalam surat An Nisa ayat 115 di atas dijumpai kecaman Allah tehadap orang-orang yang menentang Rasul, maka ini dapat pula dipahami sebagai kecaman tehadap orang-orang yang menantang para ulama, termasuk menentang para guru. Halyang demikian tujuannya bukan untuk Rasul, ulama, atau guru, tetapi untuk umat itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Muhammad Fu’ad Abd Al Baqy, Mu’jam al-Mufabrats li Alfadz Al Quran Al Karim, Beirut: Dar Al Fikr, 1407 H/1987 M), hal.314-319.
Syed Mahmudunnasir, Islam konsepsinya dan Sejarahnya, (terj). Adang Affandi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), cet. II, hal.30.
Sayyid Quthub, Fi Dzilah al-Quran jilid II, (Makkah al-Mukarramah: Dar al-Syuruq, 1412 H/1992,hal.759.
Mahmud Syaltut, AL Fatawa, (Mesir: Dar al-Ma’arif, 1978), hal.145.
Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Jilid II, (Beirut:Darul Fiqr.tp.th.) hal.155.
Imam Abi al-Fida’ Isma’il Ibn Katsir al-Qurasyi al-Dimasyqi, Tafsir Ibn Katsir, Jilid I, (Makkah al-Mukarramah: Al-Maktabah Al-Tijariyah, 1407 H/1986 Hal. 555-556.


[1] Lihat Muhammad Fu’ad Abd Al Baqy, Mu’jam al-Mufabrats li Alfadz Al Quran Al Karim, Beirut: Dar Al Fikr, 1407 H/1987 M), hal.314-319.
[2] Syed Mahmudunnasir, Islam konsepsinya dan Sejarahnya, (terj). Adang Affandi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), cet. II, hal.30.
[3] Sayyid Quthub, Fi Dzilah al-Quran jilid II, (Makkah al-Mukarramah: Dar al-Syuruq, 1412 H/1992,hal.759.
[4] Mahmud Syaltut, AL Fatawa, (Mesir: Dar al-Ma’arif, 1978), hal.145.
[5] Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Jilid II, (Beirut:Darul Fiqr.tp.th.) hal.155.
[6] Imam Abi al-Fida’ Isma’il Ibn Katsir al-Qurasyi al-Dimasyqi, Tafsir Ibn Katsir, Jilid I, (Makkah al-Mukarramah: Al-Maktabah Al-Tijariyah, 1407 H/1986 Hal. 555-556.
[7] Abuddin Nata, Paradigma Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hal. 67.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar